Aceh Tamiang — Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat oleh Taruna Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltekpin) di Kabupaten Aceh Tamiang memasuki hari kelima. Hingga hari ini, para taruna masih terus berjibaku membersihkan sisa lumpur pascabencana di sejumlah titik terdampak.
Fokus kegiatan tetap diarahkan pada tiga lokasi utama, yakni Lapas Kelas IIB Kuala Simpang, Rumah Dinas Pegawai, serta SDIT Darul Mukhlishin. Luasnya area serta masih banyaknya ruangan yang tergenang lumpur tebal menjadi tantangan utama yang terus ditangani secara bertahap.
Di lapangan, para taruna bekerja membersihkan ruangan demi ruangan, saluran air, hingga fasilitas pendukung agar dapat kembali difungsikan. Kegiatan ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan lingkungan sekaligus membantu masyarakat dan aparatur setempat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Aksi kemanusiaan ini juga mendapat perhatian dari Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas. Menurutnya, kegiatan pengabdian yang dilakukan Taruna Poltekpin merupakan bentuk bantuan nyata yang langsung dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak bencana Aceh Tamiang.
Atensi tersebut menjadi penguat semangat bagi para taruna untuk terus melanjutkan pengabdian hingga kondisi lingkungan benar-benar pulih. Memasuki hari kelima, komitmen Taruna Poltekpin untuk hadir dan memberi kontribusi langsung bagi masyarakat Aceh Tamiang terus ditunjukkan melalui kerja nyata di lapangan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Selatan, Andi Basmal, dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026) menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan semangat pengabdian yang ditunjukkan Taruna Poltekpin di Aceh Tamiang. Menurutnya, keterlibatan taruna dalam aksi kemanusiaan tersebut mencerminkan nilai kepedulian sosial dan jiwa pengayoman yang menjadi karakter utama insan Kementerian Hukum.
“Apa yang dilakukan para Taruna Poltekpin ini bukan sekadar kegiatan fisik membersihkan lumpur, tetapi juga wujud nyata empati dan tanggung jawab sosial. Mereka hadir di tengah masyarakat saat dibutuhkan, dan ini menjadi pembelajaran penting tentang makna pengabdian sejak dini,” ujar Andi Basmal.
Kakanwil berharap pengalaman di lapangan tersebut dapat membentuk karakter taruna agar kelak menjadi aparatur yang humanis, responsif, dan selalu mengedepankan kepentingan masyarakat dalam setiap tugas pengabdian.
